Dari awal aku tidak mempercayai perempuan itu. Tetapi kecantikannya terlalu mempesonaku. Meski kekuasaanya tinggallah setengah jaya, tetapi dia tetaplah seorang penguasa. Dia duduk di atas singgasana seperti pedang putih berukir permata. Mempesona tetapi berbahaya. Dan aku adalah seorang ksatria. Darah Majapahit mengalir dalam ragaku. Seperti juga dia. Mahkota itu entah milik siapa, karena aku maupun dia, dan juga banyak bangsawan Tanah Jawa merasa memilikinya. Inilah saatnya. Ketika kakiku patah dan wajahku telah hancur karena perang tanding itu, aku tetaplah seorang ksatria. Dan aku berhak atas cintanya. Raganya. Juga tahtanya.
Kebo Marcoet adalah ksatria tanpa tanding di bumi Jawa. Kami bersama mengolah raga, menempa jiwa, di tempat yang tak terjamah oleh manusia durjana. Alas Purwo, dimana kefanaan dan keabadian berdiam di sini, hidup dan mati tidak ada lagi, manusia dan dewa bertutur sapa. Di bawah asuhan Mahaguru Nyi Roro Upas, kami adalah saudara. Dan, Kang Mas Kebo Marcoet mendapat titah untuk memimpin rakyat kami. Rakyat Blambangan. Negara kami tak tertaklukkan. Sementara Majapahit semakin lemah, Kang Mas Marcoet memperkuat angkatan perang kami. Dan aku adalah panglimanya.
Majapahit seperti piring kaca yang telah retak. Dari utara, pada saudagar Parsi telah berhasil membangun pengaruh mereka pada penduduk pribumi. Gerakan mereka memutar dan mengepung sampai di barat dan selatan. Para bangsawan yang telah berhasil terpengaruh, mulai kehilangan kepatuhan pada wanita itu. Majapihit seperti di tengah pusaran angin puting beliung. Dan di sini, di Bumi Blambangan ini, wilayah timur jawadwipa, kami tegak berdiri, sepeti karang tak tergentarkan oleh riak dan gelombang. Blambangan tidak akan pernah merendahkan diri dalam persekutuan dengan Majapahit, sebab Penguasa Alas Purwo telah menakdirkan kejayaan negeri kami.
Tetapi perempuan itu memang terlalu cantik. Gusti Kebo Marcoet yang telah bersumpah untuk tidak bersekutu dengan Majapahit akhirnya tergoda pula. Gusti Kebo Marcoet telah memberikan kedua adiknya yang sangat cantik untuk menjadi istriku. Aku adalah saudara seperguruan sang raja. Sekarang aku adalah saudara iparnya. Dan, aku adalah panglima tentaranya. Tak salah jika sang raja menugaskan aku untuk mengantarkan surat lamaran kepada perempuan itu. Tetapi inilah awal bencana itu. Perempuan itu terlalu cantik. Dan, akupun jatuh cinta.
Web Design
Web Design Service
Hey there! Thanks for dropping by Theme Preview! Take a look around
and grab the RSS feed to stay updated. See you around!
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Filed Under :
Apr.18,2010